Anak merupakan anugerah dan titipan yang maha kuasa kepada seseorang yang akhirnya disebut dengan orang tua. Dalam perjalanan kehidupan seorang anak, orang tua memiliki tanggung jawab dan peran besar terhadap anaknya. Termasuk dengan terbentuknya karakter dan kepribadian anaknya. Jadi, sudah jelas bahwa orang tua memiliki tugas untuk mendidik anaknya menuju kebaikan.

Ngomong-ngomong tentang pendidikan, tahukah anda, bahwa kepribadian seoarang anak mulai dibentuk saat masa kehamilan. Teori phsycoanalysis Freud (Freud’s View of the Human Mind: The Mental Iceberg) menyebutkan bahwa ada 3 level kehidupan yang dialami manusia, yaitu unconscious, preconscious dan conscious
Level unsconscionus mulai terbentuk sejak terbentuknya sel otak (sekitar usia 6 minggu) sejak dalam kandungan sampai dengan usia 9 tahun. Pada level ini, akan sangat berpengaruh banyak terhadap kehidupan seorang manusia. Disitu akan banyak hal yang mampu membentuk karakter dan kepribadian seorang anak. Sehingga dibutuhkan cara yang tepat bagi orang tua untuk mendidik seorang anak, karena tanggung jawab mendidik seorang anak sangat besar, dan itu akan mempengaruhi kehidupan seorang anak di masa depan.

Sejak dalam kehamilan mulai usia 6 minggu, otak mulai terbentuk dan berkembang. Segala memori dari dunia luar sudah mulai terekam olehnya. Oleh karena itulah mengapa ibu disarankan untuk selalu rileks misalnya dengan diperdengarkan lagu-lagu yang membuat ibu merasa nyaman. Disinilah pentingnya sebuah istilah “Pregnancy with Fun” karena apa yang dialami ibu akan disalurkan dan direkam oleh otak si kecil. Ibu yang hamil idealnya harus dalam keadaan yang selalu senang dan nyaman. Penelitian di Jerman menyebutkan ketika ibu merasa senang dan nyaman (dites dengan ibu menonton film yang lucu) bayi dalam kandungan aktif bergerak dan merangsang perkembangan otak. Namun ketika ibu merasa tidak senang (dites dengan suara yang mengagetkan) beberapa dendrit otak dengan cepat mengalami regresi (mengerut). Wow, sebuah penelitian yang mengejutkan. Jadi, itulah betapa pentingnya menjaga kehidupan rumah tangga anda ketika ibu sedang mengandung, karena apapun yang terjadi didunia luar, akan langsung diterima oleh si kecil yang akibatnya akan mempengaruhi kehidupan seorang anak nantinya. Ketika mulai usia 6 minggu kehamilan, dalam Islam sangat disarankan bagi orang tua untuk sering-sering melantunkan ayat suci Al-Qur’an. Karena membaca ayat suci Al-Qur’an terbukti membuat seseorang menjadi rileks dan tenang. Tak ada kan orang membaca Al-Qur’an dengan marah-marah ^^

Lihat video dibawah ini gan, bayi ketika mendengar suara Al-Qur'an
Dalam unconscious level, manusia belajar tentang kepuasaan tersendiri. Dan ini memang normal, dan seharusnya hal ini hanya boleh terjadi pada usia balita saja, yaitu mengukur dunia hanya dari dirinya sendiri. Ada yang tidak membuatnya nyaman kemudian menangis, meminta orang lain untuk menuruti keinginannya. Jadi, ketika seseorang sudah melewati balita namun masih melakukan hal yang diukur dari kepuasannya sendiri, maka terjadi gangguang perkembangan saat dia masih dalam masa balita dulu. Disinilah orang tua berperan, orang tua harus mengajarkan seorang anak untuk lebih peduli terhadap lingkungannya dan tidak mementingkan dirinya sendiri saja.

Pada level preconscionus kebanyakan adalah untuk menyimpan intelegensi. Jadi biarkan anak-anak aktif dan mengembangkan daya imajinasi serta kreatifitasnya, karena pada tahap ini juga berperan dalam 

Sedangkan level conscious dimulai terbentuk pada usia 9 tahun. Misalkan, saat anak-anak melihat sapu, kemudian bermain dengan sapu itu bagaikan kuda-kudaan, itu menunjukkan bahwa anak memiliki imajinasi yang baik dibandingkan yang lainnya. Namun hati-hati, ketika seorang anak hanya terfokus pada satu hal saja dalam jangka waktu yang lama dan ketika hal yang menjadi fokusnya diambil anak tersebut menjadi bingung, bisa jadi itu adalah tanda-tanda autism. Segera bawa ke dokter untuk mendapatkan penanganan. Lebih cepat akan lebih baik. Dan yang terakhir adalah Level conscious dimulai pada umur 9 tahun. Disini seorang anak mulai belajar tentang realita kehidupan.

Berikut adalah penjelasan skema perkembangan manusia menurut umurnya: 
Umur 0 - 1 / 2 tahun adalah fase percaya dan tidak percaya. Disinilah waktunya yang tepat orang tua mengenalkan Agama kepada si kecil. Disini orang tua harus bisa mendapatkan kepercayaan penuh dari anaknya, karena dengan cara itu orang tua akan mampu menanamkan hal yang baik pada si anak. Ketika seorang anak merasa tidak bisa mempercayai orang tuanya, itu merupakan hal yang sangat gawat karena orang tua kan sulit untuk mengajarkan berbagai hal pada anak nantinya.

Umur 2-3 / 4 tahun adalah tahap pengenalan dirinya. “Who am I?” seperti itulah yang ada dipikiran seorang anak pada masa itu. Disini diperlukan seorang tokoh idola bagi anak untuk menjadi role model yang bisa dijadikan contoh olehnya. Jika orang tua bisa menjadi role model yang baik baginya, bisa saja dia akan mengidolakan orang tuanya sendiri. Namun tetap dibutuhkan pengarahan yang tepat oleh orang tua untuk seorang anak bisa mendapatkan idolanya, misalnya kita bisa mengarahkan dengan dongeng ataupun cerita riwayat yang ada. Jika anda percaya dengan Islam, tidak ada salahnya menceritakan kisah-kisah nabi dan rasul rutin terhadapnya terutama sebelum tidur, karena secara alami manusia akan lebih mudah disentuh hatinya ketika lelah, dan saat tidurlah memori disimpan, sehingga diharapkan ketika tidur apa yang telah diceritakan bisa masuk dalam memorinya dan akan membangun karakternya. Inilah salah satu cara praktis untuk membentuk kepribadian dan karakter seorang anak. Coba ajak si kecil untuk berkunjung ke took-toko buku, biarkan dia memilih dan ajari dia untuk memahami apa yang ingin dia pahami, disitu dia akan semakin berkembang. Jangan lupa ajari dia untuk mandiri dalam fase ini. Karena jika tidak, dia akan senantiasa menggantungkan dirinya pada orang lain, terutama orang-orang yang telah dia percayai, sehingga akan menggangu kemandirian hidupnya. Ketika pendidikan di fase ini tidak berhasil, maka anak akan menjadi sosok yang selalu malu-malu dan ragu-ragu yang tidak wajar.

Umur 4-5/6 tahun adalah usia anak untuk melakukan inisiatif-inisiatif sesuai insting dan kemauannya. Biarkan dia berekspresi untuk mengembangkan daya imajinasinya. Puji dia atas tindakan-tindakan yang telah dilakukannya. Itu akan meningkatkan kepercayaan dirinya dalam menghadapi dunianya kelak. Misalkan seperti yang telah saya tuliskan di preconscious level tadi, saat anak-anak melihat sapu, kemudian bermain dengan sapu itu bagaikan kuda-kudaan, itu menunjukkan bahwa anak memiliki imajinasi yang baik dibandingkan yang lainnya. Puji hal itu, jangan bertindak terlalu overprotektif, misalkan “jangan itu kotor, jangan main-main dengan itu, sini duduk manis nonton TV” dsb, karena memang ini fasenya anak-anak untuk berekspresi. Namun tetap kontrol apa yang dilakukan anak. Karena disini tetap kita harus mengajarkan hal-hal yang baik secara etika dan moral, cuma jangan sampai menjadikan anda sebagai orang tua yang overprotektif, karena itu justru akan mengganggu perkembangan anak. Jadi jangan sampa lose control dan juga jangan sampai menjadi orang tua yang overprotektif. Disini orang tua harus mengajarkan seorang anak untuk lebih peduli terhadap orang lain, lingkungannya dan tidak mementingkan dirinya sendiri saja atau bisa disebut pelatihan superego. Ketika fase perkembangan anak di usia ini terganggu, maka dia akan menjadi pribadi yang selalu merasa tertekan karena selalu merasa bersalah.

Umur 6 – 11/12 tahun adalah fase dimana anak-anak mulai untuk berkarya. Jangan kaget jika jagung, bawang, kacang hijau atau apapun akan suka ditanam oleh anak-anak pada masa ini. Karena itu adalah sebuah media yang sangat mudah bagi mereka untuk menyalurkan hasratnya. Jika memang perlu, silahkan orang tua untuk membimbingnya lebih jauh saat fase ini. Disini akan merangsang anak untuk selalu produktif akan karya-karya daya cipta dari pikirannya. Jika fase ini mengalami gangguan, maka dia akan menjadi pribadi yang selalu merasa dirinya rendah dan tidak mampu melakukan apapun.

Umur 12 – 18 tahun. Inilah usia yang bisa dikatakan seorang anak benar-benar dalam keadaan yang sangat labil. Disini peran orang tua juga tak kalah penting. Disini juga akan membuat orang tua merasa sangat pusing. Disatu sisi, anak akan lebih percaya terhadap teman-teman dan lingkungannya daripada orang tuanya. Dia ingin privasinya dihargai oleh orang tuanya. Dia akan merasa dia sudah dewasa, orang tua jangan mengaturnya lagi dsb. Karena memang inilah fase anak untuk mencari identitas dirinya, atau bahasa kerennya mencari jati dirinya. Orang tua disini sangat penting perannya, orang tua harus memikirkan beribu cara untuk tetap mendapatkan kepercayaan dan mampu memberikan pendidikan yang baik serta mengarahkan anaknya. Karena seringkali anak akan terjerumus dengan hal-hal yang berbahaya pada fase ini, misal pergaulan bebas, narkotika, minuman alcohol dan yang paling sering adalah rokok. Ada juga yang menyebutkan dalam bahasa anak muda sekarang yaitu masa alay. Karena anak akan mencoba mendapatkan perhatian yang lebih dari semua orang. Dia ingin diakui keberadaannya oleh semua orang, ingin dihargai dan ingin disenangi semua orang. Jangan heran bahwa ada juga istilah “kelas 2 SMA adalah masa bobrok-bobroknya seseorang”. Hal itu tidak salah, karena memang begitulah adanya. Orang tua harus bekerja keras untuk mementaskan seorang anak dari dunia bobroknya untuk memandang masa depannya. Memberikan gambaran visi kehidupannya kedepan juga dibutuhkan sebagai idealismenya saat dewasa nanti. Jika gagal, akan sangat sulit untuk menentukan arah kedepannya. Ketika masa ini terganggu, maka yang terjadi adalah kedewasaan anak akan tertunda dan ketika dia dewasa dia masih bingung tentang siapa dirinya dan apa yang harus ia lakukan untuk masa depannya.

Umur 18 – 40 tahun merupakan masa keemasan seseorang. Disini dia sudah dikatakan sebagai pribadi yang dewasa. Terbatas seberkualitas apa kedewasaan seseorang tidak lepas dari apa yang telah dia dapatkan dimasa lalu. Ketika fase-fase perkembangan yang sebelumnya banyak yang gagal, maka dalam fase ini sesorang akan menjadi pribadi yang menarik diri dari pergaulan masyarakat dan suka mengisolasi dirinya. Dia merasa malu, tidak perlu atau apapun yang membuatnya enggan untuk bergaul dengan masyarakat.

Dari semua fase perkembangan menurut umur tersebut, kunci dari perkembangan kepribadian dan karakter anak adalah lingkunngan keluarga dan orang tua. Keluarga yang harmonis akan mengantarkan anak menuju hal-hal yang baik nantinya. Perlu diketahui bahwa trauma sekecil apapun akan mampu mempengaruhi kepribadian seorang anak kedepannya. Jadi berhati-hatilah dalam berumah tangga. Karena sekecil apapun hal yang dilihat, didengar maupun dirasakan oleh seorang anak akan mempengaruhi kepribadiannya yang akan mempengaruhi kehidupannya kelak.  


Somoga bermanfaat, dan semoga kita menjadi manusia yang bermanfaat dan orang tua yang sukses kelak.
Amin..



Leave a Reply.