Makna sebuah ketulusan…

Bagaikan sebuah akar yang gigih mencari air dan nutrisi untuk hidup sebuah pohon..


Ketika pohon itu semakin tumbuh dengan rindang hijaunya dedaunan, bahkan menunjukkan indah bunganya pada dunia, sang akar masih tetap setia dibawah tanah melakukan hal yang sama tanpa terlihat oleh siapapun..

Dan dia tetap senang menjadi seperti itu..

(Quote yang sangat berharga)


Tapi dalam kehidupan ini ada hal yang berbeda tentang pernyataan ini.

“Tapi mengapa saat seseorang ingin menjadi sebuah akar lengkap dengan hikayat hidupnya, justru dengan seiring berjalannya waktu dan keadaan (entah dipaksa, terpaksa atau berubah prinsipnya) dia harus menjadi bunga?”

“Karena sudah waktunya sang pohon untuk membuat generasi penerusnya, mau tidak mau dia harus menjadi bunga”

“Kalau memang untuk regenerasi, perlu diketahui bahwa bunga tidak bisa menghasilkan generasi penerus tanpa kehadiran kupu-kupu, lebah ataupun kumbang. Karena merekalah yang membantu menjatuhkan serbuk sari ke putik yang dimilikinya sehingga pembuahan itu terjadi.

Dan yang perlu diketahui lagi adalah kupu-kupu, lebah dan kumbang tidak akan tahu bahwa bunga memiliki sesuatu untuk kehidupan mereka dan bunga membutuhkan mereka untuk regenerasi jika bunga tidak memberikan tanda bahwa dia membutuhkan bantuan.”

Tapi mengapa interaksi itu bisa terjadi, jawabannya adalah simbiosis mutualisme. Yaitu ketika mereka sama-sama saling membutuhkan dan sama-sama menguntungkan bagi mereka. (Pelajaran SMP nih, haha..)

Bagaimana jika salah satu membutuhkan sedang yang lainnya tidak?
Ada banyak kemungkinannya, bisa simbiosis komensalisme bisa simbiosis parasitisme, tergantung apa yang terjadi ketika mereka saling berinteraksi nantinya.

Tapi sayang, simbiosis dalam konteks kehidupan nyata didunia manusia yang sedang berjalan sekarang agak berubah. Ketika salah satu mengharapkan terjadinya simbiosis mutualisme, tapi yang terjadi adalah komensalisme. Ketika 1 merasa butuh, dan dia ingin dibutuhkan, pihak yang lain merasa tidak membutuhkan yang lainnya.

Ya, itulah tantangan menjadi kupu-kupu, lebah dan kumbang jaman sekarang. Harus memiliki penciuman dan penglihatan yang lebih tajam dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tanpa diharapkan kedatangannya oleh bunga, kupu-kupu, lebah dan kumbang masih bisa membantu bunga untuk regenerasi.

Dan tentang akar yang harus menjadi bunga bagaimana?
Entahlah, terbatas apakah si akar benar-benar menikmati apa tidak, siapa yang tahu. Memang akar adalah teladan yang baik. Tak dipungkiri ketika ada yang mau menelusuri hal yang tersembunyi ternyata memiliki sesuatu yang luar biasa, hal yang tersembunyi itu akan dalam sekejap menggetarkan dunia. Layaknya arkeolog yang menemukan situs yang telah dicari bertahun-tahun lamanya, atau layaknya bajak laut Luffi yang menemukan harta karun yang ditinggalkan Gold Roger (kok jadi one piece? :p)

Mungkin begitulah Tuhan menentukan jalannya. Entah itu sebuah ujian dan tantangan ataukah itu sebuah rejeki dari yang Kuasa, siapa yang tahu. Yang pasti semua itu adalah nikmat yang harus disyukuri dan dijalani.

Terbatas jadi apapun kita didunia ini, entah akar, bunga atau kupu-kupu, lebah maupun kumbang, itu adalah jalan yang sudah ditentukan. Jalani, nikmati dan syukuri, karena setiap langkah kita kedepan meninggalkan jejak, dan kita tak akan pernah bisa menghapus jejak kita yang dibelakang. Jadi, jejak apa yang mau kita tinggalkan? :)



Leave a Reply.