Ketika sebuah mata kuliah tentang radiologi, seorang dokter sedang memberikan kuliah tentang bagaimana cara membaca foto thoraks.

“Sudah pernah belajar cara membaca radiologi kan ya? Sekarang coba sebutkan langkah-langkah membaca foto yang benar dan urut!”

Sontak kelaspun menjadi ramai karena ocehan khas anak sekelas saat dosen bertanya yaitu “nggremeng”. Akhirnya seperti biasa dosen kami yang harus bertindak dengan memberikan instruksi yang bisa silahkan angkat tangan. Satu per satu menjawab dengan jawaban yang hampir mirip, yaitu melihat apakah foto layak baca, menentukan kiri dan kanan, kapan foto dibuat, melihat mulai dari luar ke dalam mulai dari bagian soft tissue yang meliputi kulit, lemak dan lainnya, kemudian ke tulang dada atau costae, kemudian melihat pleura dan melihat parenkim paru serta menilai kelainan yang ada.
(*Nggremeng adalah suasana dimana banyak orang berbicara dengan orang disekitarnya tidak keras dan tidak berbisik sehingga menimbulkan suara berisik yang mengganggu. Contoh saat ada orang pidato dan penonton berbicara sendiri)

Karena kurang puas dengan jawaban yang diberikan anak didiknya, dosen kami kemudian melontarkan pertanyaan lagi.

“Kalau yang pertama kali harus dilihat apa?”

Kembali 1 kelas “nggremeng”.  Kemudian mulai ada jawaban yang keluar satu per satu, mulai dari apakah foto layak baca, menentukan kiri dan kanan hingga kapan foto dibuat. Dan semua jawaban yang kami lontarkan tidak satupun yang benar. Hingga suasana kembali “nggremeng” dan dipenuhi kebingungan. Hingga muncul suara dari sudut kelas yang menuntaskan segalanya “melihat identitas” katanya. Sontak dosen kami tersenyum dan mengakhiri rasa penasaran kami. Ya, melihat identitas adalah jawaban yang diinginkan dosen kami. Beliau menyampaikan bahwa melihat identitas foto addalah nomor 1, karena jika foto yang kita lihat tidak sesuai dengan pasien yang kita hadapai, bisa-bisa kita salah dalam melakukan penatalaksanaan pada pasien. Karena itulah identitas sangat penting, dengan itu kita bisa tahu siapa yang kita hadapi. Sebelum kami melakukan apapun kami benar-benar diwati-wanti, jangan lupakan identitas, maknanya sangat dalam, bukan sekadar dalam menangani pasien, karena sebauh identitaslah yang selalu melekat dalam diri seseorang.


Ya, identitas. Menurut KBBI identitas adalah ciri-ciri atau keadaan khusus seseorang; jati diri. Menilik dari arti tersebut, maka jelaslah sudah bahwa kita dikenal orang karena identitas kita. Dan tidak semua orang untuk mengenali kita dengan ciri yang sama. Misalnya, orang mengenal Cristiano Ronaldo sebagai pemain Real Madrid, tapi ada juga yang mengetahuinya dan lebih mengenalnya sebagai pemeran iklan sebuah shampo, atau mungkin guru sekolahnya mengenal dia sebagai seorang murid yang membuatnya terkesan karena mampu menjadi pemain timnas portugal saat usianya masih muda. Ya, orang memiliki kesan tersendiri untuk melihat identitas kita. Yang jelas, apa yang pernah kita lalui pasti menimbulkan kesan pada orang lain secara sadar maupun tak sadar. Namun yang perlu diingat adalah orang mengenal identitas kita adalah sebagai pribadi yang dominan. Contohnya, orang akan mengenal Ronaldo sebagai pemain bola,  banyak yang mengenal itu dibandingkan dengan dia sebagai bintang iklan. Sama seperti kita, apapun yang pernah kita lalui, pendidikan, pekerjaan, pergaulan, organisasi dan lainnya akan menimbulkan kesan bagi orang lain, dimana kesan itu akan menjadi sebuah identitas kita dimata orang lain. 
Jika kita dikenal sebagi orang yang terpandang di masa lalu, dan menjadi sorotan orang, maka hal tersebut tidak akan bisa hilang begitu saja. Walaupun kita sudah tak ada dalam posisi tersebut, tapi kita tetap dipandang sebagai bagian dari posisi tersebut. Idealisme yang dulu dimiliki tetap saja akan dipertanyakan banyak orang. Jika kita membuat ulah tak jelas entah itu didunia nyata maupun maya, sesungguhnya itu hanya merusak citra diri sendiri saja! Bahkan juga merusak citra berbagai hal yang pernah dilalui dan disinggahi
Jadi berhati-hatilah ketika akan berbuat suatu hal. Karena dampak buruk siap mengintai setiap saat. Bukan hanya citra diri sendiri yang akan rusak yang berujung hilangnya kepercayaan orang terhadap kita, tapi juga akan merusak citra apa yang telah disinggahi, entah itu organisasi, pendidikan, pekerjaan dan lainnya. Intinya, jika kita sudah tak berada dalam sebuah posisi yang membuat kita idealis, jangan pernah berbuat aneh-aneh yang bisa merusak citra posisi itu. Bahkan jangan sampai kehilangan idealisme yang pernah diperjuangkan. Karena jika tidak, apa bedanya kita dengan orang-orang yang hanya ngoceh dan tanpa solusi? :)



Leave a Reply.