Alkisah manusia di padang Arafah hanyut dalam kekhusyu’an ibadah haji mereka. Terdengar lafaz-lafaz dzikrullah dan pujian dalam AsmaNya. Siang yang terik itu menjadikan sebagian para haji tertidur diirngi tasbih dan kekhusyu’an
Salah seorang dari jama’ah yang berada di padang Arafah itu adalah seorang saudagar kaya dan terpandang. Sang saudagar ini tertidur pulas di tengah-tengah kekhusyu’an manusia memuja Rabb mereka. Dalam tidurnya itu, sang saudagar ini bermimpi bertemu dengan Rasulullah SAW.


Beliaupun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, siapakah di antara hamba-hamba Allah yang menunaikan ibadah haji tahun ini yang diterima sebagai haji mabrur?”Rasulullah kemudian menjawab dengan tersenyum ramah: “Si fulan, seraya menyebutkan nama sang hamba miskin itu”.Saudagar itu terkejut dan ingin tahu siapa gerangan dia yang beruntung itu. Maka beliaupun menyambung pertanyaannya: “wahai Rasulullah, siapa gerangan dia dan berasal dari mana?”Rasulullah kembali menjawab dengan ramah: “Dia adalah seorang hamba Allah dari perkampungan fulan, seraya menyebutkan nama kampungnya”.Mendengarkan itu, saudagar itu terkejut dan hampir tidak percaya. Mana mungkin, pikirnya, ada seseorang yang pergi haji dari kampung itu. Semua penduduknya adalah miskin. Penghasilannya tidak mungkin mencukupi untuk seseorang bisa menunaikan ibadah haji. Pergolakan batin sang haji itu yang setengah percaya dan tidak menjadikannya terbangun.Setelah menunaikan ibadah hajinya, saudagar itu segera kembali ke kotanya. Keinginannya sangat besar untuk tahu siapa gerangan orang yang mendapatkan haji mabrur dari perkampungan yang disebutkan itu. Ditelusurinya kampung itu, tapi tak seorang pun mengaku melakukan ibadah haji. Lalu dia teringat nama yang disebutkan oleh Rasulullah SAW tadi, maka dicarinya orang itu. 

Ternyata dia hanyalah seorang tukang semir sepatu yang miskin.Saudagar itu pun meminta sang penyemir itu menceritakan perihal dirinya, dan sampai Rasulullah SAW menjamin baginya haji mabrur. 

"Wahai saudaraku, amalan apa yang telah engkau lakukan hingga Hajimu mabrur??"

Maka dengan tenang tapi dengan hati yang bahagia sang penyemir itu bercerita panjang, mulai dari niatannya untuk haji, mengumpulkan perbekalan sedikit demi sedikit, hingga semuanya siap. Walaupun tukang penyemir sepatu ini miskin, semangat dan komitmennya untuk pengabdi kepada Penciptanya sangat besar. Bahkan tidak ketinggalan mengimpikan untuk dapat melakranakan ibadah haji di suatu hari.Untuk mewujudkan mimpi itu, disisihkanlah penghasilannya dari ke hari, bulan ke bulan, bahkan dari tahun ke tahun. Kalaulah seandainya bukan karena iman dan tawakkal yang tinggi, pastilah hamba Allah ini patah semangat, sebab uang yang dikumpulkan itu tidak pernah mencukupi biaya haji yang dibutuhkan. Namun didukung oleh semangat penuh dan kerja keras, hingga suatu ketika dirasa bahwa bekal untuk berhaji telah mencukupi.Segala persiapan pun dilakukan. Niat telah bulat, perbekalan ada di tangan. Kini tinggal memulai perjalanan itu. Hati hamba ini bersuka ria tiada habis memuji kebesaran Ilahi. Dan tibalah masa untuk memulai perjalanan itu.

Namun, pada beberapa hari sebelum tiba keberangkatannya, sang istri sepulang dari pasar mencium aroma masakan yang harum dari tetangga sebelahnya. perlu diketahui sebelumnya, Istri Sang Hamba itu tengah hamil. Dengan keinginan yang sangat sebagaimana orang hamil pada umumnya, sang istri meminta suaminya untuk memintakan sedikit masakan itu dari tetanganya.Sang hamba itupun mengalihkan langkah kakinya menuju kediaman tetangga itu sambil membawa piring untuk memita sedikit masakannya. Di lihatnya tetangganya yang janda beranak 3 tengah menikmati makanan bersama-sama dengan lahapnya. 


Tukang semir Sepatu: "Bolehkah saya meminta sedikit dari masakan itu saudaraku??" Dengan penuh harap hamba ini meminta,,

Dan apa yang dia dapat, Dia mendapat jawaban yang aneh keluar dari tetangganya ini,,
"Makanan ini HALAL UNTUK KAMI, tapi makanan ini HARAM UNTUKMU DAN KELUARGAMU!!"


Ada apakah gerangan hingga tetangganya berkata sedimikian rupa?? 
Ditanyalah tetangganya ini dengan lembut dan sabar,,
"Ada apakah gerangan hingga kamu berkata seperti itu saudaraku??"

Akhirnya tetangga inipun menceritakannya dengan derai air mata menetes di wajahnya,,
"Mengapa makanan ini halal untukku dan keluargaku??
Kamu tak tahu aku dan 3 anak-anakku ini sedang merasakan kelaparan yang amat sangat,,
Hari pertama kami merelakan rasa lapar kami begitu saja,,
Masuk di hari kedua rasa itu sangat melilit kami berempat,, semakin lama semakin perih kami rasakan,, tapi apalah daya kami tak mendapatkan apapun yang mampu melegakan rasa lapar kami,,
Memasuki hari ketiga, rasa itu tak dapat kami tahan lagi. Akhirnya aku memberanikan diri untuk mencari makanan lagi namun ditempat yang mungkin tak pernah kau bayangkan. Mengapa makanan ini haram untuk keluargamu? Karena makanan ini aku ambil dari tumpukkan sampah di ujung desa sana. Disana ada bangkai hewan dan aku memotongnya sebagian dan memasaknya untuk menyambung hidup kami"


Mendengar Kenyataan itu hamba penyemir sepatu ini menangis sejadi-jadinya dihadapan janda ini, dan langsung berterima kasih serta meminta maaf kepada janda tersebut dan langsung pulang kerumahnya,,


Di ruang tamu sudah menunggu istrinya yang memancarkan pandangan penuh harap dan rasa puas ketika suaminya datang membuka pintu. Namun harapan itu seketika lenyap ketika dia melihat air mata yang terurai di wajah sang suami. Sang suamipun menceritakan apa yang telah ia dengar  tadi. Mendengar hal itu, sang istripun menangis sejadi-jadinya di ruangan itu.


Kemudian, tanpa pikir panjang lagi dengan niat ikhlas dan tekad karena mencari ridha Allah SWT, tukang semir sepatu itu memberikan bekal perjalanan hajinya kepada tetangga dengan harapan Allah memberikan keringanan bagi penderitaannya.Singkatnya, sang hamba itu gagallah berangkat ke tanah suci. Sebuah ambisi pribadi pengabdian kepada Rabbnya yang telah lama diidamkan. Namun dalam hatinya dia puas karena mampu memberikan secercah harapan dan ketenangan kepada tetangga yang tergeletak lemah dan tak berdaya itu.Dari kota terdekat dari kampung tukang sepatu ini juga ternyata ada beberapa orang yang menunaikan haji pada tahun yang sama. Bahkan beberapa di antaranya berangkat menunaikan ibadah haji untuk ke sekian kalinya.Singkat cerita, tibalah masa wukuf di Arafah. Sang hamba yang gagal berangkat haji itu kembali menggeluti pekerjaan hari-harinya dengan penuh ikhlas. Gembira dalam setiap saat bersama ridha Tuhannya. Hatinya seolah bernyanyi ria dalam genggaman rahasia Ilahi. Bergerak mengikuti hempasan ombak takdir kekuasaanNya. Gerakan-gerakan tangannya selalu teriringi oleh pujian dan tasbih kepada sang Khaliq, Pencipta alam semesta.“Barangkali niatku yang bulat dan kerja keras dan tekadku itu yang diterima. Sayapun ikhlas dan menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah SWT.”, katanya sambil tersenyum melirik pak haji.Tak lupa juga sang penyemir sepatu ini menyampaikan selamat kepada sang haji seraya berdoa semoga mendapatkan haji mabrur. 



Leave a Reply.