Berjalan seorang laki-laki separuh baya berjalan menuju sebuah tempat yang didepannya terpampang papan nama putih dan semakin dekat ia berjalan terbaca tulisan yang diawali dengan sebuah nama yang tak asing di daerah itu, yaitu dokter.

Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 21.00, tanda bahwa praktek dokter ini sudah seharusnya tutup.

Pasien: “Assalamu’alaikum.. Selamat malam dokter..”

Benar saja, ketika bapak itu masuk sembari mengucapkan salam, dokter yang ada dalam ruangan itu tengah melepaskan jas putihnya yang telah lusuh karena telah dipakainya seharian.

Dokter: “Wa’alaikumsalam.. Oh iya ada apa bapak?” (terkaget karena memang tengah melepas jasnya sambil menghela nafas melepas penatnya)

Pasien: “Maaf dokter, tolong periksa saya”

Dokter: “Oh iya bapak, mari. Boleh tahu nama bapak siapa? Darimana asalnya bapak?

Pasien: “Nama saya bapak ---------. Saya dari Kediri.”

Dokter: “ Baik, mari bapak” (Akhirnya dokter kembali memakai jas yang baru ia 
lepaskan). Apa yang bapak rasakan, dimana yang sakit?”

Pasien: “Pokoknya periksa saya dokter” (nada agak tinggi)

Dokter: “Iya bapak, bapak akan saya periksa, tapi yang sedang bapak rasakan sekarang apa?”

Pasien: “Pokoknya periksa saya dokter!”(nadanya semakin tinggi)

Dokter: “Iya bapak, mari silahkan naik ke tempat tidur”(Dengan perasaan agak jengkel juga karena memang sudah waktunya pulang, malah mendapatkan pasien yang cukup aneh, tapi tetap menjaga kesabarannya)

Dokter melakukan semua pemeriksaan fisik yang dia pelajari mulai ujung rambut hingga ujung kaki. Dalam sela-sela pemeriksaan, dokter masih penasaran mengapa pasiennya bersikap aneh seperti tadi.

Setelah melakukan semua pemeriksaan fisik, dokter menyimpulkan diagnosisnya, namun dokterpun agak bingung bagaimana menyampaikannya kepada pasiennya.

Dokterpun terdiam sejenak, tanda dia telah selesai menyelesaikan pemeriksaannya, tak lama kemudian

Pasien: “Sudah selesai dok?”

Dokter: “Sudah pak”

Pasien: ”Bagaimana kesimpulannya dokter?”

Dokter: ….. (terdiam karena bingung untuk menyampaikan apa yang telah dia simpulkan)

Pasien: “Kenapa dokter? Apakah anda tidak menemukan penyakit saya?”

Dokter: “Mmm…. (kembali terdiam)”

Pasien: “Ada apa dokter? Anda masih bisa bicara kan? Saya”

Dokter masih terdiam, karena dokter sendiri bingung bagaimana ia akan menyampaikan berita buruk yang ia miliki kepada pasiennya. Yang ada dipikirannya adalah, bapak ini sudah tidak memiliki harapan. Ia bingung, bagaimana jika pasien akan shock ditempat, ditambah lagi waktunya sudah malam, pasiennya datang sendiri dan dia berasal jauh dari kediri.

Ia berpikir matang-matang mengumpulkan seluruh kekuatan dan keberaniannya.

“Ya Allah, beri saya kekuatan untuk menghadapi ini, bismillahirrahmanirrahim” (dalam benaknya)

Hingga beberapa saat kemudian mulai terucap kata demi kata yang susah payah ia rangkai

Dokter: “Mmm, jadi begini pak. Setelah saya memeriksa bapak tadi, saya merasakan ada benjolan di sekitar hati bapak. Kemugkinan diagnosis saya adalah kanker hepar atau kanker hati bapak. Dan saya harap bapak mampu menerima dan ikhlas dalam menjalaninya. (Sambil terbata-bata dan berkeringat dingin)

Pasien: “ALHAMDULILLAH YA ALLAH” (Terlihat sorot kedamaian dalam pandangan dan raut wajahnya)

Betapa kagetnya dokter ketika mendengar kalimat yang terucap dari pasiennya itu. Dokterpun menjadi penasaran, mengapa pasiennya bersikap seperti itu, namun belum selesai dokter terkurung dalam kebingungannya, tiba-tiba terucap rangkaian kata dari pasien itu

Pasien:
“Alhamdulillah, terima kasih dokter telah memeriksa dan menyimpulkan penyakit saya.  Jadi memang saya sakit kanker hati dok. 2 minggu yang lalu, saya telah pergi ke dokter yang ada di Kediri. Dokter yang pertama, dia mengatakan saya terkena kanker hati, umur saya sudah tidak lama lagi. Saya tidak puas dengan jawaban itu, saya putuskan untuk mencari jawaban ke dokter lainnya. Dokter kedua dan ketiga mengungkapkan hal yang sama. Mendengarkan 3 jawaban yang sama, masih belum memuaskan penasaran saya. Akhirnya minggu lalu saya pergi ke surabaya. Disana saya cari Professor ahli hepatology. Setelah saya bertemu, kembali saya dihadapkan dengan jawaban yang sama.

Setiap hari saya terngiang-ngiang akan jawaban-jawaban yang telah saya dengarkan. Saya mengadukannya pada Tuhan, “Ya Allah, benarkah apa yang aku alami ini?”

Entah kenapa, sampai tadi pagi, saya masih juga belum puas dengan jawaban-jawaban dokter-dokter yang sudah saya dengar. Akhirnya, tadi pagi saya putuskan untuk mencari 1 dokter lagi. Jika memang jawaban yang keluar nantinya adalah sama, sudah saya mantapkan hati, saya akan menyerahkan semua pada Tuhan.

Pagi tadi saya naik bis dari Kediri ke Blitar. Di Blitar saya mencari papan nama dokter dan kalau saya merasa hati saya “adem” saya akan mendatanginya. Benar saja, saya menemukan papan nama yang waktu itu saya melihatnya menjadi adem. Saya putuskan untuk mendatanginya. Waktu itu siang hari dan tempat praktik itu belum buka, akhirnya saya tunggu hingga sore hari. Sampai sore hari tempat itu tetap belum buka, dan saya bertemu dengan seseorang yang menyampaikan ternyata dokternya sedang keluar kota. Ya, putuslah harapan saya tadi. Tapi saya lihat matahari masih belum tenggelam, entah kenapa hati saya mengajak saya untuk meneruskan perjalanan ke Malang. Sampailah dimalang saya pada waktu Isya’ tadi. Saya berjalan di Malang ini, mencari papan-papan dokter yang ada, dan entah kenapa saya tertuju pada papan yang ada didepan itu, dan saya cukup merasakan adem dalam hati saya. Dan tanpa banyak berpikir saya tadi langsung masuk dan menemui dokter.

Dan ketika dokter menyampaikan bahwa saya terkena kanker hati, lepaslah sudah rasa penasaran saya. Saya sudah menyiapkan diri untuk menerima jawaban itu. Saya sudah mantap menerima takdir saya. Saya siap untuk kembali menghadap yang kuasa jika memang ini waktunya. Dengan begini saya akan merasa lebih nyaman. Saya akan menyusun rencana kedepan disisa hidup saya ini bersama keluarga saya. Terima kasih sekali dokter”


Dokterpun merinding mendengar apa yang diceritakan oleh pasiennya itu. Dan dia juga tercengang mendengar kata-kata pasiennya. Betapa berat ujian dan perjuangan yang harus di jalani pasiennya. Namun, dengan  itu dokterpun menjadi lega, karena kekhawatirnnya tidak terjadi.

Semalaman dokter tak mampu memejamkan matanya karena terngiang-ngiang cerita pasien tadi.

Betapa hebatnya pasien tadi. Dia ikhlas menerima takdir yang telah dititipkan sang kuasa. Tak pernah sekalipun dia memprotes akan kuasa Tuhannya. Dia bersyukur akan semua yang telah Tuhan berikan kepadanya. Dia tidak merasa di dzalimi, dia merakan Tuhan itu adil.

Mungkin itulah makna ikhlas yang sebenar-benarnya. Ketika dihadapkan dengan keadaan apapun, termasuk keadaan yang mengancam jiwa, MENERIMA DAN MENSYUKURI. Sadar bahwa semuanya adalah anugerah sang kuasa.

Terima kasih dokter atas pengalamanmu
Terima kasih bapak pasien atas pelajaran yang engkau berikan
Akan kucoba menyampaikan ilmu yang telah engkau ajarkan terhadap orang-orang yang kutemui
Semoga semua amal ibadah kita semua diterima dan kita selalu mendapatkan ridho sang kuasa
Amin Ya Robbal ‘Alamin


Yakinlah bahwa hidup adalah serpihan-serpihan anugerah
Bertebaran dalam indahnya alunan nada Illahi
Berhiaskan butir-butir canda, tawa dan lara


Ikhlas, ikhlas, ikhlas…


Bisikan lembut yang selalu menyapa kalbu
Pesan untuk menjawab setiap perjuangan
Perjuangan menuju titik akhir sebuah takdir
Takdir siapa?
Takdir sebagai manusia yang sedang bermain-main di dunia 



Leave a Reply.